Perkembangan telekomunikasi Seluler Di indonesia

Hingga akhir tahun 2008, pengguna selular dari 11 operator telekomunikasi baik jaringan GSM maupun CDMA diperkirakan telah mencapai lebih dari 151,8 juta pelanggan atau jauh melampaui jumlah pelanggan telepon tetap. Dengan demikian, tingkat penetrasi (teledensitas) seluler didalam negeri telah mencapai sekitar 69%

pada tahun 1984 Teknologi seluler masuk ke Indonesia untuk pertama kali di tahun ini dengan berbasis teknologi Nordic Mobile Telephone (NMT). Teknologi ini masuk hasil kerja sama  PT Telkom dengan PT. Rajasa Hazanah Perkasa yang menyelenggarakan layanan komunikasi seluler dengan mengusung teknologi NMT -450 (yang menggunakan frekuensi 450 MHz), tahun 1985 teknologi AMPS (Advance Mobile Phone Sistem,diperkenalkan teknologi yang  mempergunakan frekuensi 800 MHz, dan merupakan cikal bakal CDMA saat ini

akhir tahun 1993, Menristek saat itu, BJ Habibie, memutuskan untuk menggunakan teknologi GSM pada sistem telekomunikasi digital Indonesia.PT Telkom memulai proyek percontohan seluler digital Global System for Mobile (GSM) di Pulau Batam dan Pulau Bintan.

Tahun 1994 PT Satelit Palapa Indonesia (Satelindo) beroperasi sebagai operator GSM pertama di Indonesia ,Akhir 1996, PT. Excelcomindo Pratama (Excelcom) yang berbasis GSM muncul sebagai operator seluler nasional ketiga. Telkomsel yang sebelumnya telah sukses merambah Medan, Surabaya, Bandung, dan Denpasar dengan produk Kartu Halo, mulai melakukan ekspansi ke Jakarta engan mengawali kegiatan bisnisnya di Jakarta dan sekitarnya

Tahun 1997,Telkomsel memperkenalkan produk prabayar pertama yang diberi nama Simpati, sebagai alternatif Kartu Halo. Lalu Excelcom meluncurkan Pro-XL sebagai jawaban atas tantangan dari para kompetitornya, dengan layanan unggulan roaming pada tahun 1998. Di tahun tersebut, Satelindo tak mau ketinggalan dengan meluncurkan produk Mentari, dengan keunggulan perhitungan tarif per detik.

Tahun 2000 ,layanan pesan singkat (short message service) menjadi fenomena dikalangan pengguna ponsel. Praktis dan biaya murah.Di tahun ini pula PT Indosat dan PT Telkom mendapat lisensi sebagai operator GSM 1800 nasional sesuai amanat UU Telekomunikasi No 36/1999. Layanan seluler kedua BUMN itu direncanakan akan beroperasi secara bersamaan pada 1 Agustus 2001

Pada tahun 2001, pelopor layanan GPRS (General Packet Radio Service) dan MMS (Multimedia Messaging Service) di Indonesia adalah  Indosat yang diawali dengan berdirinya mendirikan PT. Indosat Multi Media Mobile (IM3). Pada 8 Oktober 2002, Telkomsel menjadi operator kedua yang menyajikan layanan tersebut, kemudian tahun 2003Satelindo meluncurkan layanan GPRS dan MMS dan menjadi operator seluler Indonesia ketiga yang meluncurkan layanan tersebut.

Teknologi CDMA muncul Pada Desember 2002,teknologi seluler ini menggunakan  sistem penomoran untuk tiap pelanggan menggunakan kode area menurut kota asalnya, seperti yang dipergunakan oleh telepon berbasis sambungan tetap dengan kabel milik Telkom. TelkomFlexi hadir sebagai operator CDMA pertama di Indonesia, di bawah pengawasan PT. Telekomunikasi Indonesia, menggunakan frekuensi 1.900 MHz dengan lisensi FWA (Fixed Wireless Access).

8 Oktober 2003,teknologi 3g muncul, PT. Cyber Access Communication sebagai operator seluler 3G pertama di Indonesia, Melalui lisensi Keputusan Dirjen Postel No. 253/Dirjen/2003 lainnya. pada jaringan UMTS (Universal Mobile Telecommunications System) atau juga disebut dengan W-CDMA (Wideband-Code Division Multiple Access) pada frekuensi 1.900 MHz sebesar 15 MHz.

Pada Februari 2004, Teknologi EDGE (Enhanced Data Rates for GSM Evolution) masuk Indonesia, EDGE sanggup melakukan transmisi data dengan kecepatan sekitar 126 kbps (kilobit per detik) dan menjadi teknologi dengan transmisi data paling cepat yang beroperasi di Indonesia saat itu. Bahkan menurut GSM World Association, EDGE dapat menembus kecepatan hingga 473,8 kilobit/detidan menjadikannya sebagai operator EDGE pertama di Indonesia. Tekomsel meluncurkan layanan EDGE pertama di Indonesia

Baru pada tahun 2004, para operator seluler di Indonesia sepakat melayani layanan MMS antar-operator,

Pada Mei 2005,Telkomsel berhasil melakukan ujicoba jaringan 3G di Jakarta dengan menggunakan teknologi Motorola dan Siemens, CAC melakukan ujicoba layanan video telephony, akses internet kecepatan tinggi, dan nonton siaran Metro TV via ponsel Sony Ericssson Z800i. Setelah melalui proses tender, akhirnya tiga operator telepon seluler ditetapkan sebagai pemenang untuk memperoleh lisensi layanan 3G, yakni PT. Telkomsel, PT. Excelcomindo Pratama (XL), dan PT. Indosat pada tanggal 8 Februari 2006

Sejak saat itu Jumlah pengguna layanan seluler di Indonesia mulai mengalami ledakan. Jumlah pelanggan layanan seluler dari tiga operator terbesar (Telkomsel, Indosat, dan Excelcom)  sudah menembus 38 juta Itu belum termasuk operator-operator CDMA. Hal ini disebabkan oleh murahnya tarif layanan seluler jika dibandingkan pada masa sebelumnya yang masih cukup mahal

Dengan Teknologi seluler yang semakin berkembang dan jumlah pengguna layanan seluler yang sangat banyak,maka infrastruktur telekomunikasi pun ikut meningkat,terdapat 10 operator seluler di indonesia PT Telkom, Tbk. (Flexi), PT Telkomsel (Halo, As, Simpati), PT. Indosat, Tbk. (Matrix, Mentari, IM3, Star One), PT. Excelcomindo Pratama, Tbk. (Xplor, Bebas, Jempol), PT. Bakrie Telecom, Tbk. (Esia, Wifone, Wimode), PT. Mobile-8 (Fren), PT. Sinar Mas Telecom (Smart), PT. Hutchison Charoen Pokhand Telecomunication (3 “Three”), PT. Sampoerna Telecom Indonesia (Ceria), PT. Natrindo Telepon Seluler (NTS, AXIS) dan Pasifik Satelit Nusantara (Byru, Pasti) dengan jumlah produk melebihi 20 variasi untuk berbagai segmen.

Tower BTS (Base Transceiver System) menjadi salah satu infrastruktur penting komunikasi dan informatika. hingga akhir 2007 terdapat 46.446 tower BTS di indonesia, pada Indonesia Cellular Show (ICS) 2010, Rabu (14/7/2010 )menurut Ketua Umum Asosiasi Telekomunikasi Selular Indonesia (ATSI) Sarwoto Atmosutarno, BTS yang ada lebih dari 100.000 dengan jumlah TRX 1,4 juta,untuk  mengatasi melonjaknya jumlah  tower milik para operator seluler,dalam  meningkatkan jaringan seluler sampai pelosok maka pemerintah melalui menteri komunikasi dan infomasi (KOMINFO) mengeluarkan kebijakan mengenai pembangunan menara melalui peraturan terbaru Peraturan Menteri Kominfo No. 2/PER/M.KOMINFO/3/2008 tentang Pedoman Pembangunan dan Penggunaan Menara Telekomunikasi. Berdasarkan peraturan tersebut, terutama pada pasal 5 yang menyebutkan bahwa kini tower BTS wajib digunakan secara bersama tanpa mengganggu pertumbuhan industri telekomunikasi. Hal ini menjadi landasan bahwa kini tower wajib digunakan oleh minimal 2 operator.

Dengan infrastruktur yang baik dan peningkatan layanan seluler di Indonesia saat ini telah menimbulkan dampak yang positif,dimana kemudahan telekomunikasi semakin meningkat, semua orang kini dapat berhubungan dengan siapa saja dengan cepat dan tanpa di batasi jarak dan waktu.

daftar refrensi:

  1. http://id.wikipedia.org/
  2. http://www.ceptelefoncunuz.net/timeline-penerapan-3g-di-indonesia/
  3. http://www.kapanlagi.com/h/0000131267.html
  4. http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/06/tgl/06/time/150948/idnews/790376/idkanal/328

  5. http://web.bisnis.com/artikel/2id2569.html
  6. http://www.informasi-media.blogspot.com/2008/03/internet-murah-ceria-dari-sampoerna.html
  7. http://techno.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/11/13/54/163797/nsn-2012-penetrasi-seluler-indonesia-capai-80

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s